INDONESIA, negeri zamrud kathulistiwa, yang membentang indah dengan berbagai pulau, daratan dan lautan dari Sabang sampai Merauke. Beragam pulau besar dan kecil, suku, budaya dan karakter mewarnai bumi nusantara

Bahkan berbagai agama dan madzhab keagamaan juga ikut menyemarakkan kebhinekaan bumi pertiwi.

Keragaman sebenarnya adalah salah satu sunnatullah di alam semesta, agar saling mengenal antara sesama dan agar kehidupan berjalan dan terus bergulir.

Firman Allah:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Dari kaca mata syar’i, kebhinekaan itu pun sesuatu yang lumrah. Itu sudah ada sejak zaman turunnya wahyu. Manusia dizaman kenabian beragam, ragam bangsanya, kabilahnya bahkan ragam agamanya.

Hanya ada satu masalah yang perlu diperhatikan tinjauan syar’inya. Yaitu keragaman dan kebhinekaan dalam agama.

Yang secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Kebhinekaan antar agama

  2. Kebhinekaan dalam agama


Kebhinekaan antar agama

Yaitu kebhinekaan antara kaum muslimin dan penganut agama lainnya.

Muamalah dan hubungan antara kaum muslimin dan penganut agama lainnya secara umum terbagi menjadi dua:

  1. Dalam masalah keagamaan


Sebuah keyakinan yang paten bagi segenap kaum muslimin, bahwa agama satu satunya yang diridhai Allah adalah Islam.

Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Semua agama lainnya tertolak.  Firman Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Hal ini dipertegas oleh Rasulullah dalam sebuah hadits:

عَنْ جَابِرٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَتَاهُ عُمَرُ فَقَالَ إِنَّا نَسْمَعُ أَحَادِيثَ مِنْ يَهُودَ تُعْجِبُنَا أَفْتَرَى أَنْ نَكْتُبَ بَعْضَهَا؟ فَقَالَ: «أَمُتَهَوِّكُونَ أَنْتُمْ كَمَا تَهَوَّكَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي»

“Dari Jabir dari Rasulullah saat didatangi oleh Umar seraya berkata: “sesungguhnya kami mendengar ucapan orang yahudi yang mengagumkanku, bagaimana pendapat anda kalau kami menulis sebaagiannya? maka Rasulullah bersabda : “apakah engkau sudah ngawur sebagaimana ngawurnya orang yahudi dan nashrani ? sungguh saya telah membawa untuk kalian agama yang putih cemerlang, seandainya Musa masih hidup dia tidak berhak kecuali harus menjadi pengikutku.” (Hasan, HR. Ahmad. Irwaul Ghalil : 1589)

Karenanya, saat orang kafir Quraisy menawarkan toleransi dan kerjasama dengan Rasulullah dalam ranah ini, secara tegas ditolak oleh Allah dalam firman Nya :

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

 

Konsekwensi dari hal ini, diantaranya adalah:

  1. Tidak boleh beribadah dengan ibadah mereka Rasulullah menolak tegas saat ditawari tolerasnsi dalam ibadah semacam ini.

  2. Membenci ajaran kekufuran dan orang kafir


Karena keyakinan akan keyakinan islam yang haq berarti menolak ajaran dan keyakinan lainnya.

Firman Allah :

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Tidak akan kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka berkasih-sayang kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22).

Lihatlah sikap nabi Ibrahim terhadap kaumnya :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

  1. Tidak boleh menyerupai orang kafir


Rasulullah bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.” (Shahih, HR. Abu Dawud)

  1. Membantu orang kafir dalam urusan agama mereka


وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)

  1. Dan berbagai konsekwensi lainnya.


 

  1. Dalam masalah muamalah duniawi


Secara umum tidak terlarang berhubungan muamalah duniawi dengan orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin.

Firman Allah :

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Karena orang kafir tidak satu derajat, tapi berbeda-beda. Yaitu:

  • Kafir Dzimmi yaitu orang kafir yang hidup dinegeri muslim dan tunduk pada peraturan negeri tersebut

  • Kafir Mu’ahad yaitu kafir yang sedang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin

  • Kafir musta’min yaitu kafir yang memohon suaka perlindungan kepada kaum muslimin.


Ketiga jenis orang kafir ini haram diperangi. Bahkan Rasulullah mengecam keras orang muslim yang memeranginya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad maka dia tidak akan bisa mencium baunya sorga, padahal baunya bisa tercium dari jarak yang sangat jauh.”  (HR. Bukhari)

Allah berfirman :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah : 6)

Satu-satunya orang kafir yang boleh diperangi adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang sedang terjadi peperangan dengan kaum muslimin. Merekalah yang dimaksudkan oleh Allah dalam ayat Nya :

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (QS. An Nisa’ : 89)

Kebhinekaan dalam agama

Yaitu kebhinekaan antara kaum muslimin dengan muslimin lainnya. Sebagaimana dalam berbagai masalah lainnya, masalah pemahaman keagamaan antara sesama muslim pun mesti terjadi perbedaan antara satu dan lainnya. Ini adalah salah satu sunnatullah.

Firman Nya :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Dan seandainya Tuhan mu menghendaki, niscaya akan menjadikan manusia ummat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih kecuali yang dirahmati oleh Tuhanmu.” (QS. Huud 118-119)

Berbagai latar belakang dan sebab mendasari semua perbedaan ini. Sampaipun dizaman yang termulia.

Kita masih sangat ingat bagaimana para sahabat berbeda pendapat dalam banyak masalah. Diantaranya :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَوْمَ الأَحْزَابِ « لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِى قُرَيْظَةَ » . فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِى الطَّرِيقِ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نُصَلِّى حَتَّى نَأْتِيَهَا . وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّى ، لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

“Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah pada waktu perang ahzab bersabda: “Jangan ada seorangpun yang shalat ashar melainkan di bani Quraizhah.”  Ternyata mereka mendapatkan waktu shalat ashar ditengah jalan. Sebagian mengatakan: “kita jangan shalat kecuali sampai bani Quraizhah.” Tapi sebagian lainnya malah berkata: “kita shalat disini. karena bukan itu maksud Rasulullah.” Lalu kejadian tersebut dilaporkan kepada Rasulullah ternyata beliau tidak menyalahkan salah satunya.” (HR. Bukhari Muslim)

Tapi seiring dengan semakin menjauhnya ummat islam dari zaman kenabian, perbedaan ini semakin meruncing dan mendasar. Rasulullah mengisyaratkan perbedaan ini dalam banyak hadits. Diantaranya :

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم افترقت اليهود على إحدى أو ثنتين وسبعين فرقة وتفرقت النصارى على إحدى أو ثنتين وسبعين فرقة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة .

“Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah bersabda : “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum nashrani terpecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Ash Shahihah : 203)

Juga sabda beliau :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ: «هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَقَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ» ثمَّ قَرَأَ (إِن هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبعُوهُ)

Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : “Rasulullah membuat sebuah garis yang lurus seraya berkata : “ini adalah jalan Allah, lalu beliau membuat beberapa jalan dikiri dan kanannya seraya berkata : “ini adalah berbagai jalan, pada setia jalannya terdapat setan yang mengajak padanya.” (Hasan, HR. Ahmad, Nasai. Misykah : 166)

Bahkan beliau secara tegas menyebut bahwa sebagian kelompok ummatnya akan sesat bahkan anjing neraka.

عن ابن أبي أوفى قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الخوارج كلاب النار

Dari Ibnu Abi Aufa berkata :  Rasulullah bersabda : “orang–orang khowarij itu anjing anjing neraka.”(Shahih, HR. Ibnu Majah. Raudh nadhir : 906, Misykah : 3554)

 

Dari sini, maka perbedaan ummat islam, secara umum ditinjau dari beberapa sisi :

Sisi perbedaan itu sendiri :

Khilaf dan perbedaan ada beberapa macam.

  1. Ikhtilaf tanawwu’.


Yaitu khilaf yang hanya menunjukkan keragaman tanpa ada pertentangan.

Semisal perbedaan ahli tafsir dalam menafsirkan Ash-Shirath Al-Mustaqim dalam surat Al-Fatihah. Ada yang menafsirkannya dengan Al-Qur`an, Islam, As-Sunnah, dan Al-Jama’ah. Semua pendapat ini benar dan tidak bertentangan maksudnya.

misal lain. Berbagai macam zikir sujud, ruku, doa iftitah dan lainnya.

Perbedaan yang seperti ini tidak tercela. Namun bisa menjadi tercela manakala perbedaan seperti ini dijadikan sebab atau alat untuk mendzalimi orang lain.

  1. Ikhtilaf tadhad.


Yaitu perbedaan yang saling bertentangan antara satu dan lainnya. Satu mengatakan halal lainnya mengatakan haram, sunnah bidah, tauhid syirik.

Dalam perselisihan semacam ini tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil pendapat tersebut menurut keinginan (hawa nafsu)nya, tanpa melihat akar masalah yang diperselisihkan dan pendapat yang dikuatkan oleh dalil.

Lalu bagaimana kita mensikapinya?
Macam khilaf dari sisi sikap kita padanya.

Di sisi ini khilaf ada dua :

Pertama : khilaf ghairu mu’tabar

Maknananya khilaf yang tidak dianggap, mungkin karena ini bukan ranah ijtihadiyyah atau mungkin tidak ada dalil yang mendasarinya.

Kebanyakan khilaf ini adalah khilaf yang terjadi  antara ahlul haq dan bathil, antara ahlus sunnah dan ahlul bid’ah

Sikap kita jelas yaitu membenarkan yang benar dan menganggap batil yang batil.

Terutama kalau berkaitan dengan permasalahan urgen agama islam. Seperti khilaf antara sunnah dan syiah.
kedua :

Khilaf mu’tabar

Maknanya khilaf yang dianggap karena sama-sama memiliki dalil yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah kebanyakan perselisihan antara ulama’ sunnah.
Sikap Kita terhadap khilaf ini.

  1. Kita yakin bahwa khilaf mereka bukan karena menyengaja menentang dalil, namun karena sebab-sebab yang bisa diterima. Diantaranya :

  2. Karena dalil belum sampai kepadanya.

  3. Adakalanya hadits telah sampai kepada seorang alim namun dia belum percaya (penuh) kepada yang membawa beritanya.

  4. Hadits telah sampai kepada seorang alim namun dia lupa.

  5. Dalil telah sampai kepadanya namun ia memahaminya dengan pemahaman yang berbeda dengan ulama lainnya

  6. Telah sampai dalil kepadanya dan dia sudah memahaminya, namun hukum yang ada padanya telah mansukh (dihapus) dengan dalil lain yang menghapusnya. Sementara dia belum tahu adanya dalil yang menghapusnya.

  7. Telah datang kepadanya dalil namun ia meyakini bahwa dalil itu ditentang oleh dalil yang lebih kuat darinya, dari nash Al-Qur`an, hadits, atau ijma’.

  8. Terkadang sebabnya karena seorang alim mengambil hadits yang dhaif (lemah) atau mengambil suatu pendalilan yang tidak kuat dari suatu dalil. (Diringkas dari risalah Al-Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Mauqifuna minhu bersama Kitabul Ilmi karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)
    Kita mengikuti pendapat yang lebih kuat dari sisi dalil. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mewajibkan untuk mengikuti ucapan seseorang kecuali hanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik jiwa ini menyukainya atau tidak. Adapun selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada jaminan terbebas dari kesalahan. Sehingga apa yang sesuai dengan hujjah dari pendapat mereka, itulah yang kita ambil dan ikuti. Sedangkan yang tidak sesuai dengan hujjah maka kita tinggalkan. Sebagaimana wasiat para imam untuk meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil.

  9. Wajib tetap menghormati semua para ulama yang berselisih, karena mereka telah berjuang untuk sampai pada kebenaran, dan perjuangan mereka dalam menyebarkan iimu sangat agung.

  10. Wajib berlapang dada dalam menghadapi semua khilaf yang ada dikalangan para ulama’


Meskipun ini semua bukan berarti menutup pintu dialog dan debat secara ilmiyyah untuk mencari kebenaran dan yang lebih rajih. Ini adalah kebiasaan para ulama’.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu menyatakan: “Ucapan mereka (sebagian orang) bahwa masalah-masalah khilafiyah tidak boleh diingkari, ini tidaklah benar. Karena pengingkaran adakalanya tertuju kepada ucapan atau pendapat, fatwa, atau amalan. Adapun yang pertama, jika suatu pendapat menyelisihi sunnah atau ijma’ yang telah menyebar maka wajib untuk diingkari menurut kesepakatan (ulama). Meskipun pengingkaran tidak secara langsung, namun menjelaskan lemahnya pendapat ini dan penyelisihannya terhadap dalil juga merupakan bentuk pengingkaran. Adapun masalah amalan jika ia menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib diingkari sesuai dengan derajat pengingkaran. Bagaimana seorang ahli fiqih mengatakan bahwa tidak ada pengingkaran pada masalah yang diperselisihkan, padahal ulama dari semua golongan telah menyatakan secara tegas batalnya keputusan hakim jika menyelisihi Al-Qur`an atau As-Sunnah, meskipun keputusan tadi telah mengikuti atau mencocoki pendapat sebagian ulama?! Adapun bila dalam suatu permasalahan tidak ada dalil dari As-Sunnah atau ijma’ dan ada jalan (bagi ulama) untuk berijtihad dalam hal ini, (maka benar) tidak boleh diingkari orang yang mengamalkannya, baik dia seorang mujtahid atau yang mengikutinya….” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/252)
dikisahkan bahwa Imam Ahmad rahimahullahu berpendapat keharusan berwudhu karena keluar darah dari hidung dan karena berbekam. Maka Al-Imam Ahmad ditanya: “Bagaimana jika seorang imam shalat lalu keluar darinya darah dan tidak berwudhu, apakah anda bermakmum di belakangnya?” Beliau menjawab: “Bagaimana saya tidak mau shalat di belakang Al-Imam Malik dan Sa’id bin Musayyib?!” Yakni bahwa Al-Imam Malik dan Sa’id rahimahumallah berpendapat tidak wajibnya berwudhu karena keluar darah.

 

Kedepankan mashlahat yang lebih besar dalam masalah khilafiyyah ijtihadiyyah

Ulama fiqih menyebutkan suatu kaidah yang penting yang seyogianya dijadikan pegangan yaitu:
يُسْتَحَبُّ الْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلاَفِ
“Dianjurkan untuk keluar dari perselisihan.”
Puncak yang dicapai dari kaidah ini adalah kehati-hatian dalam beragama dan menumbuhkan sikap saling mencintai serta menyatukan hati, dengan cara melepaskan diri dari perselisihan pada perkara yang kemudaratannya ringan. Apabila meninggalkan sebagian hal yang disunnahkan akan menyampaikan kepada maslahat yang lebih dominan dan menutup pintu khilaf, maka perkara sunnah ditinggalkan.
Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan rencana untuk memugar Ka’bah dan menjadikannya dua pintu. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa membiarkan Ka’bah seperti itu lebih besar maslahatnya, di mana banyak orang Quraisy yang baru masuk Islam dikhawatirkan akan punya anggapan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghormati kesucian Ka’bah. Dikhawatirkan nantinya mereka bisa murtad dari agama karenanya.
Demikian pula sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhumengingkari Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu di saat ia shalat dengan tetap seperti ketika bermukim (tidak qashar) dalam bepergian. Namun Ibnu Mas’ud tetap shalat di belakang ‘Utsman dengan tidak meng-qashar dan mengikuti khalifah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Perselisihan itu jelek.”

Dan masih banyak contoh lainnya. Oleh karena itu sejak dahulu ulama telah sepakat tentang sahnya shalat orang yang bermazhab Syafi’i di belakang orang yang bermazhab Hanafi. Demikian pula sebaliknya, sekalipun mereka berselisih tentang batal atau tidaknya wudhu seseorang bila menyentuh perempuan. Kemudian yang perlu diperhatikan, dalam perkara yang diperselisihkan keharamannya maka jalan keluarnya adalah dengan meninggalkannya. Sedangkan perkara yang diperselisihkan tentang wajibnya maka jalan keluarnya adalah dengan dikerjakan.
Namun tingkatan untuk dianjurkan keluar dari area khilaf berbeda-beda sesuai dengan kuat atau lemahnya dalil. Yang menjadi ukuran adalah kuatnya dalil yang menyelisihi. Jika dalil yang menyelisihi lemah maka tidak dianggap, terlebih jika menjaga kaidah ini (karena dalil yang lemah) bisa menyampaikan kepada meninggalkan Sunnah yang telah kuat.
Sebagai misal, bila ada yang mengatakan bahwa mengangkat tangan dalam shalat menjadikan batal shalatnya. Pendapat seperti ini tidak perlu dihiraukan karena bertentangan dengan hadits-hadits yang kuat dalam permasalahan ini.
Kemudian juga yang perlu diperhatikan bahwa jangan sampai karena menjaga kaidah ini kita menyelisihi ijma’. Jadi untuk bisa dijalankan kaidah tadi adalah dengan melihat kuatnya dalil orang yang khilafnya teranggap. Adapun bila khilafnya jauh dari dalil syariat atau merupakan suatu pendapat yang ganjil maka tidak dianggap. Orang yang pengambilan dalilnya kuat maka khilafnya dianggap meskipun derajatnya di bawah orang yang diselisihinya. (Diringkas dari Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah karya Ali Ahmad An-Nadawi dari hal. 336-342)
Contoh Penerapan Adabul Khilaf di Masa Salaf

Di antara sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu terjadi perselisihan pendapat tentang masalah yang berkaitan dengan hukum waris, di mana ia berpendapat bahwa kedudukan kakek itu seperti ayah, bisa menggugurkan saudara-saudara mayit dari mendapatkan warisan. Sementara sahabat Zaid radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa saudara-saudara mayit tetap mendapat warisan bersama adanya kakek. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sangat yakin bahwa pendapat Zaid radhiyallahu ‘anhu salah, sampai-sampai Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkeinginan untuk menantangnya bermubahalah (saling berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi laknat kepada yang salah) di sisi Ka’bah.
Pada suatu saat, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma melihat Zaid radhiyallahu ‘anhu mengendarai kendaraannya. Maka dia pun mengambil kendali kendaraan Zaid dan menuntunnya. Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Lepaskan, wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjawab: “Seperti inilah yang kita diperintahkan untuk melakukan (penghormatan) kepada ulama dan pembesar kita.”

Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Perlihatkan kepadaku tanganmu!” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengeluarkan tangannya. Lalu Zaid radhiyallahu ‘anhu menciumnya, seraya mengatakan: “Seperti inilah kita diperintahkan untuk menghormati keluarga Nabi.”
Ketika Zaid radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Seperti inilah –yakni wafatnya ulama– (caranya) ilmu itu lenyap. Sungguh pada hari ini telah terkubur ilmu yang banyak.” (Adabul Khilaf DR. Shalih al Humaid hal. 21-22)

Dizaman sekarang apa yang diper ‘tontonkan’ oleh syaikh al Albani dan syaikh At Tuwaijiri adalah bukti bahwa khilaf mereka sangat penuh dengan adab dan saling menghormati.
akhirnya, semoga Allah senantiasa membimbing hati dan langkah kita untuk mensikapi kebhinekaan negeri kita nusantara ini dengan tepat dibawah pandauan al qur’an dan as sunnah dengan bimbingan ulama’ kita.

Amiin.  Wallahu a’lam.

 

Sidayu, 29 Shafar 1438 H
Diramu dan disusun dari berbagai sumber
Oleh

Ahmad Sabiq Abu Yusuf

Post A Comment: